BirokrasiHeadline

Waduh, Residivis di Jember Ikut Dilantik Jadi Panwascam?

JEMBER TI – Hari ini Kamis (27/10/2022) Tahapan pemilu 2024 memasuki tahapan pelantikan anggota Panwascam (Panitia Pengawas Kecamatan) di seluruh Kabupaten dan Kota di Indonesia termasuk di Kabupaten Jember.

Namun dari 93 Anggota Panwascam di 31 Kecamatan yang ada di Kabupaten Jember, 1 diantaranya ternyata menyandang status residivis dari kasus 368 KUHP tentang tindak pidana pemerasan, dimana ancamannya adalah 9 tahun penjara.

“Ada 1 anggota Panwascam dengan inisial AG yang hari ini ikut dilantik mas, yang bersangkutan pernah ditahan alias residivisi kasus pemerasan mas,” ujar sumber yang enggan disebut namanya.

Saat media ini datang ke lokasi Pelantikan anggota Panwascam se Kabupaten Jember yang digelar di Hall lantai 8 Hotel Java Lotus, terlihat AG ikut dilantik menjadi anggota Panwascam, padahal dalam aturan Bawaslu nomor 041/KP.01/JI-10/2022 tentang pendaftaran calon anggota Panwaslu Kecamatan, pada point 4 disalah satu persyaratan disebutkan calon anggota Panwascam “Tidak pernah dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam pidana 5 (lima) tahun atau lebih”

Menyikapi hal ini Ketua Bawaslu Jember Imam Thobroni Pusaka S.Sos saat dikonfirmasi di lokasi pelantikan mengatakan bahwa pihaknya tidak mengetahui soal adanya residivis yang ikut dilantik sebagai anggota Panwascam. “Wah kalau soal itu saya tidak tahu, silahkan tanya di bagian Pokja yang memahami teknisnya,” ujar Thobroni.

Andhika Firmansyah selaku pokja dalam perekrutan anggota Panwascam, tidak ada dilokasi pelantikan, saat media ini berusaha melakukan konfirmasi ke yang bersangkutan melalui pesan whatsapp, justru di arahkan untuk konfirmasi ke ketua Bawaslu.

“Bisa konfirmasi langsung ke ketua Bawaslu mas,” ujar Andhika singkat.

AG sendiri saat ditemui disela-sela pelantikan untuk dikonfirmasi terkait dirinya yang lolos dan ikut dilantik bersama 93 Panwascam lainnya masih enggan memberikan keterangan. “Jangan wawancara ke saya mas, wawancara ke yang lain saja, ini masih persiapan pelantikan,” ujar AG.

Menyikapi hal ini, Hendra Wahyudi selaku ketua Netfid (Network For Indonesian Democratic Society) Jember selaku pemantau penyelenggara pemilu independen, kepada wartawan sangat menyayangkan adanya residivis yang lolos dalam seleksi Panwascam.

“Jika memang benar adanya oknum Panwascam yang lolos seleksi meski statusnya adalah residivis, ini sangat disayangkan dan perlu di evaluasi serta harus ada pembenahan di Bawaslu sendiri, karena Panwascam adalah bagian dari calon-calon pengawal demokrasi khususnya di Jember,” ujar Hendra.

Hendra juga menilai jika pengawasnya saja sudah menciderai demokrasi, maka jangan harap demokrasi yang di inginkan masyarakat indonesia bisa terwujud. “Kalau pengawasnya saja sudah menciderai demokrasi, ya jangan harap demokrasi di Indonesia bisa terwujud, dan kami dari Netfid juga ingin mengajak semua unsur masyarakat agar selalu perduli dengan hal-hal semacam ini, dan jika memang ada bukti yang konkrit, bisa dilaporkan ke DKPP,” ujar Hendra.

Seperti diketahui, pada 16 Juni 2021 lalu, AG bersama 3 teman lainnya, yakni ER, AB dan SS tertangkap polisi karena melakukan pemerasan terhadap EY warga kesilir, kemudian kasus ini disidangkan di Pengadilan Negeri Jember, dan majelis hakim memvonis AG, AB, dan SS dengan penjara 4 bulan, sedangkan ER divonis 2 tahun. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button