HeadlineHukum dan Peristiwa

Rugikan Petani dan Nelayan, Aktivis Muda AMPD Kecam Wacana Perpanjangan Izin BSI

BANYUWANGI – Ketua Aliansi Masyarakat Peduli Desa (AMPD) dari Desa Kandangan, Pesanggaran Banyuwangi, Nailil Hufron Mengecam Keras Wacana Perpanjangan izin PT. BSI dan juga Perluasan Wilayah eksploitasi Pertambangan yang menurutnya akan memperparah kerusakan Ekologis Yang selama ini telah dirasakan Masyarakat terutama kalangan Petani dan Nelayan.

“Dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 23 Tahun 2016 tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Pasal 18 ayat (1) berbunyi: “Wilayah perencanaan RZWP-3-K meliputi: a. Ke arah darat mencakup wilayah administrasi kecamatan; …” dan Kecamatan Pesanggaran sendiri terletak di ujung selatan Kabupaten Banyuwangi, sehingga wilayah tersebut mesti mematuhi Peraturan Daerah (Perda) No. 1 Tahun 2018 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau Pulau Kecil (RZWP-3-K) Jawa Timur.
PT. Bumi Suksesindo (BSI) dan PT. Damai Suksesindo (DSI) diduga melanggar Perda No.1 Tahun 2018 sebab dalam aturan tersebut, alokasi ruang untuk pemanfaatan wilayah pesisir Kabupaten Banyuwangi, terutama Kecamatan Pesanggaran, tidak dialokasikan untuk zona pertambangan, tetapi untuk zona pelabuhan perikanan, zona pariwisata dan zona migrasi biota laut” Terang Nailil Hufron yang merupakan Magister Ekonomi dari Kampus UIN KH. Achmad Siddiq Jember itu.

Ia menambahkan Keberadaan PT. BSI dan DSI di wilayah tersebut diduga melanggar Pasal 40 ayat (3) UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang berbunyi: “Setiap kegiatan pembangunan yang mempunyai risiko tinggi yang menimbulkan bencana dilengkapi dengan analisis risiko bencana sebagai bagian dari usaha penanggulangan bencana sesuai dengan kewenangannya.”

Dalam penjelasannya disebutkan bahwa “Yang dimaksud dengan kegiatan pembangunan yang mempunyai risiko tinggi menimbulkan bencana adalah kegiatan pembangunan yang memungkinkan terjadinya bencana, antara lain pengeboran minyak bumi, pembuangan limbah, eksplorasi tambang Apalagi Eksploitasi sebagaimana yg telah dilakukan oleh PT BSI.

“Gunung Tumpang Pitu, Gunung Salakan dan gunung-gunung di sekitarnya adalah benteng alami bagi perkampungan komunitas nelayan yang tinggal di pesisir teluk Pancer dari ancaman angin Tenggara yang terkenal ganas pada musim-musim tertentu. Selain itu ia juga berfungsi sebagai benteng utama terhadap bahaya ancaman gelombang badai tsunami, jadi jelas dan tegas dari kami ekploitasi penghancuran alam ini harus dihentikan dan tidak diperpanjang lagi,” tutupnya pada awak media. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button