Opini

Pesan Cinta Gus Saif Untuk Penguasa

Oleh: Laily Ch. S.E (Pegiat Literasi)

 

 

Sosok yang humble berpeci putih itu akhirnya kembali menapakkan kakinya memasuki gedung wakil rakyat di kabupaten Jember. Gus Saif, sosok kyai panutan dari kalangan Nahdhatul Ulama di usia yang hampir menyentuh tujuh puluh tahun tetap menjadi sosok yang sangat peduli terhadap persoalan umat. Hatinya selalu tergerak untuk melakukan kritik terhadap penguasa. Aktivitas ini selalu beliau lakukan tanpa melihat siapa yang saat itu sedang berkuasa. Termasuk penguasa yang saat ini tengah mengemban amanah.

Dilansir dari beritajatim.com, Gus Saif memprotes acara “Nikahin Kasih” yang digelar Bupati Hendy Siswanto. Acara bertajuk “Tasyakuran Bareng Jember Nikahin Kasih” adalah acara perayaan ulang tahun Kasih Fajarini, istri Hendy Siswanto, yang digelar di Villa Koffie Afdeling Rayap, pada pukul 06.30 – 09.00, Jumat (25/8/2023). Acara tersebut mengundang para kepala organisasi perangkat daerah dan sejumlah tokoh di Jember dengan dress code baju era 1970-an.

Gus Saif menyampaikan keprihatinannya terhadap gaya hidup para pejabat saat ini. Terlebih di tengah kondisi Jember yang masih menyimpan masalah besar soal penanganan stunting belum tertangani secara optimal. Pesta mewah tersebut beliau anggap sebagai suatu hal yang menciderai rasa keadilan masyarakat. “Di tengah jalannya penyelenggaraan pemerintahan yang sedang menjadi sorotan dalam capaian angka stunting yang jeblok, dan angka kemiskinan serta pengangguran yang tinggi, justru bupati, wakil bupati, sekretaris daerah, dan pejabat utama Pemkab Jember tidak peka, tidak menunjukkan empati, tetapi malah larut dalam pesta pora bergaya selebritis,” katanya. (Beritajatim.com, 28/8/2023)

Secara tertulis Gus Saif juga menyampaikan perayaan pesta tersebut berpeluang besar terjadinya tindakan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang dilakukan secara massal berjamaah, masif, terstruktur dan sistematis. Dan jika hal ini terbukti maka telah terjadi pelanggaran azas umum pemerintahan. Sebab mayoritas tamu yang hadir adalah pejabat tinggi pemerintahan seperti wakil bupati, sekretaris daerah, semua kepala OPD, kepala bagian, camat dan beberapa pejabat lainnya. Mereka semua hadir tanpa mengenakan baju seragam dinas, tetapi mengenakan pakaian yang ditentukan dalam dresscode pesta tersebut. Padahal acara tersebut diselenggarakan pada jam kerja aparatur sipil negara. Selain itu sebagian besar menggunakan kendaraan dinas dengan anggaran operasional dinas dan sopir dinas. Lebih jauh, Gus Saif menduga adanya gratifikasi yang tidak dilaporkan, berupa hadiah ulang tahun kepada keluarga bupati dari undangan yang hadir.

 

Oleh karenanya, melalui Lembaga Bantuan Hukum Bolosaif meminta kepada DPRD Jember untuk melakukan interpelasi terhadap Bupati Hendy Siswanto sehingga bisa dilakukan investigasi secara mendalam dan menyeluruh atas penyelenggaraan pesta tersebut. Namun wakil ketua DPRD Jember, Ahmad Halim menolak hal tersebut. Sebab interpelasi dilakukan dengan mekanisme politik yakni minimal ada dua fraksi yang mengajukan.

 

Muhasabah Penguasa Tugas Mulia

Aktivitas memberikan saran kritik dan masukan sejatinya sangat dibutuhkan oleh penguasa. Sebab penguasa adalah manusia biasa yang tak luput dari segala khilaf. Oleh karenanya adanya pihak-pihak yang memperhatikan kinerja penguasa merupakan sebuah keniscayaan yang diperlukan agar penguasa menjalankan amanah kepemimpinan dengan baik. Hal ini juga dalam rangka menjaga keberlangsungan pembangunan di daerah maupun negara.

Mengoreksi atau menasihati penguasa (muhaasabah lil hukkam) adalah bagian dari aktivitas dakwah (amar ma’ruf nahi munkar). Sedangkan dakwah, wajib hukumnya. Dalil-dalil tentang kewajiban dakwah tersebut, telah banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bahkan Nabi saw. menyebutkan bahwa agama adalah nasihat (ad diin an nashiihah). Artinya, pilar agama ini adalah nasihat. Ketika beliau ditanya “Nasihat untuk siapa?” Di antara jawaban beliau, “…nasihat bagi pemimpin kaum muslim.”

Nabi saw. juga memuji orang yang menasihati penguasa zalim dengan sebutan afdhalul jihad (jihad yang paling utama). Beliau juga bersabda “Ingatlah, sungguh seutama-utamanya (pahala) jihad adalah (menyampaikan) kalimat yang haq pada penguasa yang zalim.” (HR. Abu Dawud No. 4344, Tirmidzi No. 2174, Ibnu Majah No. 4011)

Jelaslah bahwa dalam Islam, dakwah menasihati penguasa adalah aktivitas mulia dan terpuji, bahkan wajib hukumnya.

Apalagi bagi seorang ulama, hendaknya berada di garda terdepan dalam dakwah. Ilmu yang dimiliki oleh para ulama mengharuskan ulama selalu terdepan dalam menjalankan aktivitas muhaasabah lil hukkam ini. Karena sejatinya hukkam adalah penguasa bagi rakyat, sedangkan ulama adalah hukkam–nya penguasa.

Terlebih ulama pun akan menjadi penentu lurus atau bengkoknya penguasa. Sungguh tepat apa yang dinyatakan oleh Imam Al-Ghazali, “Rusaknya rakyat disebabkan oleh rusaknya penguasa. Rusaknya penguasa disebabkan karena rusaknya ulama”. Artinya, jika ulamanya lurus, adil dan hanif, maka mereka akan mampu meluruskan kebengkokan penguasa.

Di sinilah pentingnya aktivitas menasihati penguasa (muhaasabah lil hukkam). Dengan adanya nasihat dari para ulama dan rakyat secara umum, penguasa akan selalu terjaga di jalan ketaatan pada Allah SWT dalam menjalankan fungsinya sebagai pengatur urusan rakyatnya.

 

Muhasabah Penguasa Adalah Cinta

Di dalam Islam, muhasabah (mengontrol dan mengoreksi) para pejabat pemerintahan (al-Hukkam) adalah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah Swt. Perintah Allah Swt tersebut merupakan perintah yang bersifat tegas, yaitu untuk melakukan muhasabah terhadap para penguasa dan mengubah perilaku mereka jika mereka melanggar hak-hak rakyat, melalaikan kewajiban-kewajibannya terhadap rakyat, mengabaikan salah satu urusan rakyat, menyalahi hukum-hukum Islam, atau memutuskan hukum dengan selain wahyu yang telah Allah turunkan.

Tampuk kepemimpinan adalah amanah yang harus ditunaikan dan dijaga sebagaimana mestinya yang pasti dimintai pertanggungjawabanNya. Maka, saat mengembannya, kiranya siap dengan segala bentuk goncangan baik itu dalam bentuk kritikan atau pun nasehat.

Seorang pemimpin harus mampu melihat secara visioner dengan pemikiran positif dalam menanggapi setiap kritik, koreksi dan nasehat. Menjadikannya sebagai muhasabah atas kepemimpinannya, karena sejatinya kritik adalah bentuk cinta dan kepedulian umat atas kepemimpinannya.

Menggenggam amanah kepemimpinan ini tidaklah mudah, itulah mengapa ketika amanah ini diminta oleh sahabat Abu Dzar al-Ghifari kepada Rasulullah Saw. dengan tegas Rasulullah mengatakan, “Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah, kehinaan dan penyesalan pada Hari Kiamat. Kecuali orang yang mengambilnya dengan sesungguhnya, dan menunaikan apa yang menjadi kewajibannya dengan baik.”

Rakyat butuh pemimpin yang mencintai mereka dan lebih mengutamakan urusan mereka dan mampu membela setiap kepentingan mereka, menjadi perisai dan berdiri di garda terdepan demi rakyatnya. Pemimpin seperti ini pastinya akan memperoleh cinta dari rakyatnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button