Hukum dan Peristiwa

Peringatan Aktivis Lingkungan Diabaikan Kades Jatian, Jember Darurat Tambang

JEMBER – Kelak pada suatu masa, di wilayah Kabupaten Jember, terjadi kondisi yang mengkhawatirkan dan memprihatinkan bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Sebuah keadaan darurat tambang telah merambah daerah tersebut, mengancam kelestarian ekosistem dan mengancam kehidupan para penduduk setempat.

“Semuanya berawal dari keputusan pemerintah setempat yang memberikan izin tambang kepada perusahaan besar untuk melakukan aktivitas penambangan di daerah tersebut. Meskipun banyak peringatan dan protes dari aktivis lingkungan serta masyarakat, Kepala Desa Jatian, yang merupakan penanggung jawab langsung di wilayah tersebut, tampak mengabaikan semua peringatan itu dan mendukung dengan tegas rencana tambang tersebut,” ketus Ali Safit Tarmizi, kuasa hukum LSM AMPUH Jatim.

Akibat dari kelalaian dan keputusan Kades Jatian yang begitu gegabah, bukit-bukit yang indah dan gumuk-gumuk yang menghijau segera berada di ambang kehancuran. Perusahaan tambang, tanpa memedulikan dampak lingkungan, menggali dan menggerus tanah dengan rakusnya. Dengan cepat, pemandangan yang dulu mengagumkan dan sejuk itu berubah menjadi lautan debu yang kering dan tandus.

“Tak hanya itu, dampak yang lebih parah pun mulai terasa. Ekosistem yang sebelumnya beragam dan kaya akan keanekaragaman hayati, kini terancam punah. Banyak flora dan fauna langka yang menjadi habitat di daerah tersebut, mulai mengalami kepunahan akibat hilangnya habitat mereka. Satwa-satwa liar terpaksa berpindah ke wilayah lain mencari tempat tinggal yang lebih aman, sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem di daerah yang baru,” imbuh alumnus Universitas Islam Jogjakarta itu kepada awak media.

Dengan terganggunya ekosistem, masalah lain pun mulai bermunculan. Ketersediaan air bersih berkurang drastis karena hilangnya hutan yang berfungsi sebagai penahan air dan peresap air tanah. Tanah menjadi tidak subur karena rusak akibat penambangan, membuat pertanian yang sebelumnya menjadi mata pencaharian utama masyarakat semakin sulit untuk dilakukan.

“Akibat bencana ekologis ini, masyarakat di wilayah Kabupaten Jember harus merasakan penderitaan yang mendalam. Mereka kehilangan mata pencaharian, rumah tangga hancur, dan kesehatan terancam akibat polusi udara dan debu tambang. Meskipun aktivis lingkungan dan masyarakat telah berupaya keras untuk menghentikan kegiatan tambang, sayangnya keputusan Kades Jatian telah menyebabkan segala upaya itu sia-sia,” keluhnya.

Dalam situasi yang genting ini, diperlukan tindakan tegas dari pemerintah pusat dan lembaga terkait untuk menghentikan darurat tambang di wilayah Kabupaten Jember. Perusahaan tambang harus dihentikan dari merusak lebih lanjut lingkungan dan ekosistem yang ada. Alih-alih mengabaikan peringatan dari aktivis lingkungan, penting bagi pemerintah untuk mendengarkan suara mereka dan melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan yang berdampak luas.

“Semoga dengan kesadaran dan kerja sama bersama, masa depan Kabupaten Jember dapat dipulihkan dari kondisi darurat tambang ini. Harapan akan terciptanya lingkungan yang lestari, ekosistem yang sehat, serta kesejahteraan masyarakat yang terjaga kembali menjadi cahaya harapan di tengah kegelapan yang disebabkan oleh kebijakan kurang bijaksana,” tandas Ali Safit.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button