Wisata dan Kuliner

Pengembangan Ekonomi Kreatif dalam Penguatan Usaha Desa Wisata (Dewi) berbasis BUMDes 2023

SURABAYA – Data perkembangan BUMDesa Jawa Timur periode 2019 – 2022 semester II, naik dengan total 6.490 BUMDes baik pemula, berkembang, dan maju.

Dari data center per 31 Desember 2022, untuk kategori Maju ada 1.400 unit, berkembang 2.353 unit dan pemula sebanyak 2.737 unit.

Kepala Dinas PMD Provinsi Jawa Timur, Budi Sarwoto, bersyukur karena PT HM Sampoerna, Yayasan Rumah Kita Sidoarjo dan Mitra Klinik BUM Desa turut membantu kemajuan Dewi di Jatim.

Bahkan BUMDesa didampingi melalui zona kreatif, inovatif, dan produktif (KIP), hingga menyentuh 30 lokasi dari 18 kabupaten.

“Kolaborasi antara Pemprov Jatim, dengam PT HM Sampoerna, Mitra Klinik BUM Desa dan Akademi Desa Wisata, mendorong terwujudnya Nawa Bhakti Satya Jatim nomor 7 yakni Jatim Berdaya,” ujarnya.

Jatim Berdaya itu berarti memperkuat ekonomi masyarakat Jawa Timur dengan berbasis BUMDesa.

Direktur Program Mitra Klinik BUMDesa, Nova Hariyanto, mengatakan tahun ini potensi kepariwisataan di Jawa Timur sebagai fokus program prioritas Pemprov Jatim berbasis ekonomi kreatif.

“Kami tahun ini terus mendorong pengelola BUMDesa, pengelola wisata berbasis desa melalui ekonomi kreatif kuliner, kerajinan, desain, event festival, arsitektur dan lainnya,” papar Nova.

Fokus program tidak jauh berbeda dari tahun lalu yakni pelatihan, pendampingan, penyaluran bantuan dan festival wisata desa. Outputnya untuk keberlangsungan Dewi.

“Pengelola desa wisata (Dewi) akan bertambah pengetahuan dan kapasitasnya, tersusun standart operasional prosedur, manajerial pengelolaan tempat wisata, ada inovasi dan tersusun kalender event,” ujarnya.

Susiati, dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur menyampaikan peningkatan wisata di Jawa Timur di ekonomi forum dua tahun sekali masih menempatkan Indonesia di ranking 32.

“Peringkat ini perlu kita perbaiki. Ketika dicermati, nilai merah itu pada sarana infstruktur, sanitasi, sustainable tourism, teknologi informasi yang kurang, lemah akses permodalan, tata kelola keuangan dan lemahnya sinergi,” ujarnya.

“Kami dari Provinsi Jatim akan fokus sinergi perbaikan bidang sanitasi. Teknologi informasi sinergi dengan DPMD dan media untuk pembuatan video profil Desa Wisata dan LPPM di setiap Universitas,” ujar Susiati.

Menurut data, pertumbuhan Dewi Jatim naik sejak 2018 berjumlah 321.
Pada 2019 sebanyak 341, di 2020 ada 479, pada 2021 sebanyak 573 dan pada 2022 sebanyak 596 Dewi.

“Pengembangan kepariwisataan nasional (PKN) Jatim, masih ranking VI Nasional. Bali jawara I, disusul Jogja, Jabar, Jateng, Sulawesi dan baru Jatim,” ungkap Susiati.

Sementara itu, akademisi Universitas Airlangga, Bambang Suharto, mengatakan pengembangan zonasi mencegah kerusakan pada objek tertentu.

“Maka segala kemajuan desa, tidak merubah asalnya. So perkembangan Dewi dirasakan langsung oleh masyarakat, manfaat, dan kebanggaannya,” ujarnya.

Sekadar diketahui, Mitra Klinik BUMDesa kembali mengadakan workshop Rembug Nyekrup, di Hotel Primebiz, Kota Surabaya, beberapa waktu lalu.

Kali ini tema workshop adalah pengembangan ekonomi kreatif dalam penguatan usaha desa wisata (Dewi) berbasis BUMDes 2023.

Turut hadir, Budi Sarwoto Kadis PMD Provinsi, Susiati, Disbudpar Provinsi Jatim, Manager Regional Engagement & Sustainability PT HM Sampoerna Tbk, Kukuh Dwi Kristianto, Direktur Program Mitra Klinik BUMDesa Jatim, Nova Hariyanto, Direktur Yayasan Rumah Kita Sidoarjo Andrianus M Uran, Founder Akademi Desa Wisata, Dwi Ariadi Kusuma, dan akademisi Unair, Bambang Suharto.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button