HeadlinePendidikan

Pemerintah dan Lembaga Pendidikan Harus Pro Aktif Mencegah Radikalisme Sejak Dini

MALANG, TI – Pemerintah perlu bekerja sama dengan sekolah agar bisa mengatasi dan mencegah adanya paham radikalisme. Hal itu ditulis Moh Nor Afandi dalam naskah publik disertasinya berjudul Internalisasi Pendidikan Islam Moderat di Sekolah Dasar.

Mahasiswa Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang itu menyampaikan, hasil riset Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta yang menunjukkan bahwa banyak pendidik Pendidikan Agama Islam (PAI) di tingkat pendidikan dasar dan menengah cenderung berpaham eksklusif dan bersikap tidak toleran terhadap kelompok yang berbeda paham dengan mereka yang sesama muslim bahkan pada non-muslim.

Menguatkan hal itu, pria yang akrab disapa Afandi mengutip pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nadiem Makarim. Nadiem menyebut, bahwa radikalisme adalah salah satu problematika dalam pendidikan yang harus ditindak tegas.

Karena itu, Afandi membenarkan bahwa bidikan gerakan radikalisme dalam pendidikan itu diantaranya adalah peserta didik di tingkat sekolah dasar.

Dia menambahkan, pengaruh radikalisme di tingkat sekolah dasar kerap digambarkan dalam konten-konten sosial media, tayangan film anak atau film kartoon, baik melalui gerakan keagamaan, maupun provokasi khusus terhadap peserta didik agar turut serta menyebar paham radikalisme itu sendiri.

Menilai hal itu, Afandi yang saat ini aktif mengajar di Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember itu mengaku pesimis. Jika pendidikan tidak segera tanggap terhadap fenomena itu, maka menurutnya Radikalisme akan menggusur tujuan pendidikan itu sendiri.

Afandi menambahkan, Peserta didik di sekolah dasar lebih banyak belajar dengan meniru, meneladani figur-figur yang ditemukan dalam kesehariannya.

“Peserta didik yang berada di tingkat pendidikan dasar itu adalah individu dalam masa tumbuh kembang yang mudah sekali dipengaruhi oleh lingkungannya,” terangnya.

Lebih lanjut pria yang kini aktif menjabat sebagai ketua umum IDTBPNS Nasional itu mengutip pendapat Watson (1987) bahwa terdapat tiga sebab utama gagalnya tujuan pembelajaran agama di sekolah.

Ketiga sebab utama itu diantaranya; pertama, proses pendidikan yang diajarkan lebih mengarah kepada proses doktrinasi sehingga pembelajaran agama diposisikan sebagai sesuatu yang bersifat absolut dan tak terbantahkan. Kedua, lebih menekankan pada pembelajaran agama yang bersifat normatif-informatif. Ketiga, kuatnya ideologi atau komitmen agama yang dianut oleh seorang pendidik.

Berdasarkan tiga sebab diatas, Afandi menyebut dalam kondisi tertentu dapat  mengakibatkan munculnya pola pikir yang intoleran bagi peserta didik.

Untuk mencegah dan meminimalisir paham yang mengancam kelangsungan tujuan pendidikan itu, pria asal kelahiran Bondowoso itu menawarkan gagasan cemerlangnya berupa pentingnya melakukan upaya Internalisasi Pendidikan Islam Moderat di Sekolah Dasar.

Dia menegaskan bahwa ada tiga aspek material yang berperan dalam penanaman nilai-nilai islam moderat. Diantaranya terdapat aspek ‘People’ adalah seseorang yang berfungsi sebagai model acuan untuk menanamkan nilai, aspek kedua ‘Environtment’ adalah lingkungan belajar, dan yang terakhir ‘Behaviour’ adalah perilaku maupun cara pandang.

Dalam penelitiannya Afandi menemukan terdapat delapan nilai pendidikan Islam moderat yang berkembang di SD Al-Furqan Jember sebagaimana nilai wasathiyah Ibnu Asyur dalam kitab At-Tahrir wa Al-Tanwir dan hasil MUNAS MUI 2015, yakni; Nilai tawassuth (mengambil jalan tengah), Nilai Al-Islah (reforinasi), Nilai Tathawwur wa ibtikar (dinamis dan inovatif), Nilai Al-syura (Musyawarah), Nilai Al-Tasamuh (toleransi), Nilai Al-Tahadl-dlar (berkeadaban), Nilai Tawazun (berkeseimbangan), dan Nilai I’tidal (tegas).

Berdasarkan delapan nilai diatas, Afandi menguraikan bahwa proses internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam moderat di SD Al-Furqan Jember melalui ragam dimensi atau pendekatan yang terdiri; Pendekatan kurikulum tematik integratif, Aktualisasi trilogi moral, dan Integrasi edukatif.

“Ketiga pendekatan tersebut saya kelompokkan menjadi dua aspek internalisasi, yaitu Pertama aspek orientasi melalui keteladanan (uswah), dan aspek aktualisasi melalui habituasi (pembiasaan/ha’dzib),” tandasnya. (Rch)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button