BirokrasiHeadline

Neng Dyah Masuk PDIP, Ini Komentar Aktivis TMP Jakarta

PAMEKASAN, TI – Bertempat di kantor DPC PDI Perjuangan Pamekasan, cucu KHR. As’ad Syamsul Arifin, Ny. Hj. Aisyatul As’adiyah, S. Sy, M.E., dikukuhkan sebagai anggota kehormatan dan Ketua Dewan Pertimbangan DPC PDI Perjuangan Pamekasan. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Huda Sumber Nangka Sumber Nangka, Desa Duko Timur, Kecamatan Larangan tersebut menyampaikan, bahwa pilihannya untuk berjuang bersama PDI Perjuangan tidak terlepas dari perjalanan sejarah kakeknya bersama Bung Karno.

“Saya masuk ke PDI Perjuangan berlandaskan histori, sejarah almarhum kakek saya, KHR. As’ad Syamsul Arifin, yang merupakan sahabat dari Bung Karno,” ujarnya seusai pengukuhan keanggotaannya sebagai anggota PDI Perjuangan Pamekasan, Senin (3/1).

Neng Dyah, sapaan akrabnya, juga menjelaskan, pilihannya berlabuh ke PDI Perjuangan juga tidak terlepas dari jalan jihadnya untuk membuktikan, bahwa PDI Perjuangan merupakan partai nasionalis yang membuka pintu selebar-lebarnya untuk kaum religius.

“Alasan lainnya, saya memiliki chemistry yang pas dengan elite politik PDI Perjuangan. Sejak zaman Ibu Megawati sewaktu berpasangan dengan KH. Hasyim Muzadi, yang dideklarasikan di rumah ibu saya di Situbondo, sampai urusan politik Pilgub 2018, dengan pasangan Gus Ipul dan Mbak Puti,” jelasnya.

Karena itu, dirinya bertekad untuk berikhtiar meyakinkan dan memenangkan hati masyarakat Pamekasan pada Pemilu 2024. Menurutnya, sebagai satu-satunya kabupaten, di mana PDI Perjuangan tidak mendapatkan kursi DPRD, maka para kader dan pengurus harus bekerja keras.

“Kita harus merajut hubungan emosional dengan masyarakat. Kita juga harus memahami kondisi psikologi masyarakat. Buat mereka jatuh cinta dengan personal branding kita. Lalu kita perkenalkan siapa diri kita, apa visi-misi besar partai kita? Dan tentunya jangan lupa untuk selalu berdoa pada Allah SWT,” tuturnya.

Ia juga mengakui, sebagai satu organisasi, PDI Perjuangan sudah mapan dan matang untuk berkontestasi, baik secara manajerial, kaderisasi, program, dan gerak kerja kemasyarakatan. Artinya, PDI Perjuangan Pamekasan tinggal mensolidkan gerak, menyatukan langkah, untuk bersama-sama meraih kemenangan.

“PDI Perjuangan sudah sangat matang. Tinggal bagaimana gerak para kader dan pengurus untuk senantiasa mengabarkan, bahwa banyak tokoh PDI Perjuangan Pemekasan berasal dari kalangan pesantren; PDI Perjuangan merupakan Partai nasionalis yang religius. Yang berpegang teguh pada Pancasila,” tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Pamekasan, Nadi Mulyadi, mengatakan, bergabungnya Ny. Hj. Aisyatul As’adiyah merupakan berkah sekaligus tambahan amunisi bagi PDI Perjuangan Pamekasan untuk menyongsong Pemilu 2024.

“Ini satu berkah bagi PDI Perjuangan Pamekasan. Kami akan semakin yakin untuk melangkah, bahwa PDI Perjuangan merupakan Partai yang benar-benar nasionalis, Partai religius. Kehadiran Neng Dyah telah menjadi bukti nyata, PDI Perjuangan merupakan rumah bagi orang-orang pesantren dalam mengabdikan hidupnya untuk bangsa dan negara,” tandasnya.

Dari Jakarta, aktivis Taruna Merah Putih DKI Jakarta, Frederic Hamonangan Tumanggor, mengaku bahagia dan bangga atas pengukuhan Neng Dyah di Kantor DPC PDIP Pamekasan.

“Saya meneruskan perjuangan dan cita-cita abang-abang saya, Rolas Budiman Sitinjak dan Sukur Hamonangan Nababan, tentunya kehadiran Neng Dyah di tubuh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan akan mengubah peta politik Madura dan Tapal Kuda,” tandasnya.

Frederic juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya untuk kader banteng Madura dan Tapal Kuda.

“Nasionalis Relijius bersatu padu, berjuang bersama dalam satu barisan,” tegasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button