HeadlineHukum dan Peristiwa

Kuasa Hukum Desak Tangkap Pelaku, Kapolres Berjanji Profesional

PROBOLINGGO – Kasus dugaan penganiayaan di Dringu, Probolinggo, awal pekan lalu dengan korban LS (21) warga Dringu ramai jadi obrolan. Pasalnya pelaku diduga tidak hanya mendaratkan bogem mentah, termasuk juga sempat gunakan kaki untuk melukai saat korban mulai terkapar di aspal.

Hal itu disampaikan Mawar (nama samaran-red) warga Dringu yang menyaksikan kejadian pagi itu. Tidak sendiri, Mawar mengaku menyaksikan kejadian itu bersama ibu-ibu lain yang kebetulan belanja di toko yang tak jauh dari tempat kejadian.

“Lha kok tega, lawong korbannya sudah jatuh kok sek ditendangi, diinjak. Jelas kalah la, lawong yang dipukul kecil, yang mukul badannya besar, gitu kok mau nyalon lagi,” kata Mawar kemarin (11/11).

Melihat kejadian itu Mawar mengaku hanya bisa teriak agar pelaku menghentikan aksinya.

Inisial BH yang diduga sebagai pelaku adalah Kepala Desa (Kades) Dringu periode 2015-2021 yang akan menyalonkan diri lagi di pemilihan Kades Desa Dringu Februari 2022 mendatang.

Berawal dari giat demo warga Dringu terkait penolakan penerbitan Surat Kinerja Baik untuk ke kantor kecamatan Dringu pada Senin (8/11), LS bersama beberapa temannya yang dianggap salah satu peserta aksi mendapat penghadangan oleh BH dan kawan-kawannya yang didatangkan dari kota lain. Alhasil, dua kubu yang berseberangan itu adu mulut dan berakhir pada pemukulan.

Dikutip dari surat pelaporan nomor: LP/B/69/XI/2021/POLSEK DRINGU/POLRES PROBOLINGGO/POLDA JATIM, Polisi menetapkan terduga pelaku dengan pasal 170 KUHP, yang berbunyi bahwa setiap pelaku yang melakukan perbuatan tindak pidana pengeroyokan secara terang-terangan diancam pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan.

Menurut kuasa hukum korban, Kikis Mukisa,SH, dirinya telah mensiapkan beberapa langkah hukum terkait kliennya, termasuk akan meminta pihak kepolisian untuk melakukan penangkapan, karena ancaman pidana di atas lima tahun.

“Beberapa langkah hukum sudah kita siapkan, termasuk meminta kepolisian untuk menangkap pelaku, karena ini 170 KHUP, ancamannya di atas lima tahun,” kata Kikis dikonfirmasi melalui seluler.

“Saya heran, maksud dia mendatangkan warga dari kota lain itu apa, ada indikasi ini sudah perencanaan,” imbuh Kuasa Hukum.

Kikis Mukisa,SH menyayangkan kejadian seperti ini harus terjadi, karena menurutnya saat peristiwa itu terjadi, banyak aparat berada di lokasi sedang tugas pengamanan. “Ini kejadian khan didepan aparat keamanan lho, kenapa pelaku tidak langsung ditangkap, bahkan info yang saya terima, salah satu yang melerai kejadian itu adalah aparat. Bisa dibayangkan, di depan polisi saja mereka berani, bagaimana kalau tidak ada aparat,” keluhnya.

Kapolres Probolinggo AKBP Teuku Arsya Khadafi,SH, S.I.K, M.Si, dikonfirmasi, bahwa kasus kini dalam penanganan Sat Reskrim Polres Probolinggo. “Untuk kejadian saat ini ditangani oleh sat reskrim dan akan di proses secara profesional. Terima kasih,” jawabnya lewat pesan singkat aplikasi WhatsApp. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button