BirokrasiHeadline

KPM BPNT Diduga Diarahkan ke Warung dan Supplier Tertentu oleh Dinsos Bondowoso

BONDOWOSO, TI – Bantuan dalam bentuk sembako ini nilainya Rp 200.000 per bulan untuk setiap keluarga penerima manfaat atau KPM.

Namun pelaksanaan program BPNT di Bondowoso ada yang sedikit ganjal.Sebab dalam praktiknya, Dinas Sosial (Dinsos) Bondowoso diduga melakukan praktik menunjuk supplier dan mengarahkan seluruh e-Warung agar mengambil beras pada 6 supplier pabrik beras program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia.

Padahal di dalam panduan umum (Padum) program sembako 2020, khususnya pada prinsip pelaksanaan program pada poin 4 menjelaskan, bahwa e-Warung dapat membeli pasokan bahan pangan dari berbagai sumber dengan memperhatikan tersedianya pasokan bahan pangan bagi KPM secara berkelanjutan serta pada kualitas dan harga kompetitif bagi KKPM.

Diketahui, ada 6 supplier beras BPNT penunjukan Dinsos Bondowoso yang selama ini inten mendistribusikan beras ke e-Warung agen BNI 46 penyalur beras ke Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang semuanya di bawah kendali dinas terkait.

Agen 46 penyalur beras BPNT Berinisial A di Kecamatan Prajekan mengaku, terkait supplier sudah dipetakan oleh Dinsos.

“Untuk wilayah Kecamatan Prajekan ke utara mengambil ke supplier beras pada CV. Cipta Karya Mandiri,” ujarnya.

Dia menyampaikan, alasan Dinsos memetakan supplier beras agar memudahkan pengambilan beras. Dan mengaku, dari awal sejak menjadi agen 46 penyalur beras sudah ada sistem dari Dinsos Bondowoso untuk mengambil beras pada 6 supplier yang telah ditunjuk oleh dinas.

“Sejak pertama kali saya jadi agen sistem itu sudah ada dari Dinsos,” ungkapnya.

Sementara agen BNI 46 di Kecamatan Bondowoso  berinisial F juga menyatakan hal yang sama. Menurutnya, pengambilan beras juga sudah dipetakan terkait suppliernya oleh Dinsos.

Jadi setiap agen sudah ditentukan oleh Dinsos Bondowoso. Untuk pengambilan beras di wilayah Kecamatan Bondowoso kepada CV. Cipta Karya Mandiri,” ujarnya.

Dia membeberkan, terkait pemetaan pengambilan beras sudah terjadi cukup lama. Namun sempat ada beberapa kali pergantian.

“Kalau di wilayah kota itu pernah mengambil beras ke UD. Samudra Harapan, pernah juga ke CV. Pelita, tapi agen bisa komplain jika kualitasnya tidak sesuai,” imbuhnya.

Dia pun tidak menampik sebagai agen penyalur BPNT jika tidak bisa menentukan sendiri sebab sistemnya sudah ditentukan oleh Dinsos Bondowoso, yaitu mengambil beras pada supplier yang sudah ditentukan.

“Karena sudah dipetakan, ia agen-agen harus patuh. Kalaupun ada beras yang tidak sesuai jika mau pindah harus atas seizin Dinsos. Namun, terlebih dahulu harus disampaikan ke TKSK,” jelasnya.

Sementara, Plt.Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Bondowoso Saifuddin Suhri saat dikonfirmasi mengatakan, penentuan supplier itu berdasarkan surat dari Kementrian Sosial RI Nomor 8905/4.4.3/BS/12/2021 pada poin 4 b.

“Dinsos hanya meneruskan apa yang telah dilaksanakan oleh Bulog. Memang jamannya Bulog saat itu masih jaman Raskin, jadi kita tidak mengubah, tapi hanya melanjutkan,” ujarnya. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button