BirokrasiHeadline

Kepolisian dan Satpol PP Terkesan Tutup Mata, Aktivis Lingkungan Jadi Kecewa

PROBOLINGGO, TI – Adanya aktifitas pengurukan tanah di kawasan Gunung Bentar yang terletak di Desa Curahsawo, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, dikeluhkan masyarakat. Pasalnya, kegiatan komersial tersebut diduga memanfaatkan lahan yang berstatus aset negara milik TNI AL.

Selain itu, adanya kegiatan usaha yang dilaksanakan diduga berdampak negatif, seperti polusi udara, mengganggu kelancaran jalan umum, adanya dugaan pengrusakan pohon mangrove, serta kegiatan usaha yang diduga tak berijin (ilegal).

Hasil investigasi GNH( Gerakan Nusantara Hijau) dan juga awak media di lapangan, tanah uruk yang diambil di Gunung Bentar dikirim ke dua lokasi pembangunan tambak udang yang berada di Desa Curahsawo, yang salah satunya diduga milik pengusaha bernama Hendra dari PT. Trion Indonesia Raya.

“Memang pembangunan tambak udang ini belum ada ijin. Namun saya sempat menelpon bos saya menanyakan ijin tersebut. Jawabannya masih dalam proses,” ujar Edy petugas jaga pintu keluar masuk muatan truk di lokasi setempat, Kamis (24/2).

Mengetahui adanya dugaan pembiaran pelanggaran hukum, aktivis dari Aliansi Masyarakat Peduli Probolinggo (AMPP), Lutfi Hamid, meradang. Lelaki yang berdomisili di Kelurahan Sidopekso, Kota Kraksaan ini menyampaikan protes keras dengan adanya aktifitas pengurukan tanah dan pembangunan tambak tersebut.

Ia pun mengaku telah mendatangi Kantor Dinas Penanaman Modal dan PTSP Kabupaten Probolinggo untuk mengklarifikasi kelengkapan perijinan. Keterangan yang didapat, kegiatan tersebut tak berijin.

“Herannya kenapa kegiatan usaha tersebut tidak tersentuh hukum? Aparat kepolisian dan Satpol PP terkesan tutup mata. Sungguh kami sangat kecewa atas kejadian ini,” ketusnya.

Lebih dari itu, aktivis yang dikenal keras menyuarakan keadilan ini mengaku sempat menanyakan hal tersebut kepada Kapolres Probolinggo, AKBP Teuku Arsya Khadafi, dalam acara silaturrahim bersama LSM se-Kabupaten Probolinggo di Resto dan Cafe J’bing 3, Dringu, pada Senin (21/2).

“Banyak hal yang kami tanyakan termasuk di antaranya terganggunya arus lalu-lintas di jalan Surabaya-Situbondo yang dilalui muatan truk pengangkut tanah uruk. Untuk hal itu, Kapolres berjanji akan berkoordinasi dengan Kasat Lantas. Namun sampai saat ini, tidak ada tindakan di lapangan. Kendaraan dump truk yang kebanyakan bertuliskan GSL masih bebas lalu-lalang di jalan,” paparnya.

Sementara itu, Kasatpol PP dan Linmas Kabupaten Probolinggo, Aruman, saat mau dikonfirmasi, Kamis (24/2) tidak ada kantor. Bahkan sebelumnya, beberapa kali dihubungi melalui pesan WhatsApps tidak pernah merespon.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button