BirokrasiHeadline

Iwan Kusuma, Budayawan Jember, Geram Melihat Ketulusan Rakyat Dibayar Tipu Muslihat Elit

JEMBER, TI – Dilahirkan dan dibesarkan dengan budaya Jawa, pemuda ini sangat enerjik dan ideal tubuhnya, dengan berat badan: 74 kg dan tinggi badan: 168cm, nampak gerakannya masih sangat ringan dan cekatan. Menyukai hiburan terutama acara-acara komedi, tetapi lebih suka menonton komedi yang menghibur, segar dan cerdas. Sedangkan hal yang dibencinya adalah ketika melihat ketulusan rakyat dibayar dengan tipu muslihat elitnya. Mungkin karena kedekatannya dengan masyarakat marjinal, sehingga kepedulian terhadap upaya–upaya pemberdayaan masyarakat sangat kentara.

Iwan Kusuma adalah anak pertama dari 4 bersaudara, dan dari sinilah jiwa kepemimpinannya mulai muncul, karena memang sejak kecil telah menjadi pemimpin adik-adiknya. Hidup dalam keluarga yang sangat sederhana di tengah kampung perkotaan Kota Semarang. Tetapi setelah mahasiswa justru berinteraksi secara intensif dengan masyarakat pedesaan di Jember, merasakan ada panggilan jiwa bahwa desa-desa sangat berpotensi untuk mensejahterakan rakyatnya.

Cita-citanya adalah membangun desa mandiri, berdikari tetapi tetap memiliki daya toleran dan gotong-royong. Membayangkan suasana masyarakat desa yang berkembang dan alamnya yang asri juga tidak terlalu tertinggal terhadap pendidikan dan teknologi informasi.

Gemini adalah zodiak bintangnya, enak diajak ngomong dan sangat familiar tidak membeda-bedakan siapa kawan bergaulnya, sederhananya sosok ini mudah bergaul. Telor asin merupakan makanan kesukaannya, apalagi kalau dipadu dengan wedang jahe panas dan batang sereh yang digecek.

Udara dingin menambah mantapnya suasana dalam menyantap, karena nya ia sangat menyukai suasana alam pegunungan meskipun tidak benci pada pantai dan pesisirnya. Kegiatannya yang lebih cenderung lapangan, tokoh ini sering memakai sepatu kets atau sport, dan pakaian casual. Rapi tetapi tidak terlalu formil, sedikit parfum tetapi tidak pesolek.

Pernah dalam perjalanan di lapangan baik di Jember maupun Lumajang, melantunkan lagu-lagu iwan fals nampaknya sangat suka pada syair-syairnya. Hapal beberapa lagu yang berisi kritik sosial atau ironis dan penuh penjiwaan. Kalau penyanyi sekarang ia mengagumi grupband D’masiv, anak muda dengan lirik yang sangat peduli pada realitas sosial kekinian dengan kemasan populer. Inspiratif untuk anak muda sekarang. Ya memang realitas sosial ini adalah fakta yang harus dihadapi, bukan malah diingkari (escape from reality). Dia juga pengagum WS Rendra, makanya falsafah sering menggunakan motto hidup ‘Hadir dan Mengalir’

Dalam kesehariaanya sosok kita, justru lebih menikmati berdagang bersama kawan-kawan tani off farm hasil bumi petani yang dibantu untuk mencari pasaran produknya. Misalnya produksi petani kopi kelompok Rengganis Panti, kemudian petani sayur di sekitar Desa Sukorambi, peternak lele serta petani tembakau di wilayah Ambulu dan Tempurejo.

Disamping mendampingi petani-petani kasus sengketa tanah untuk mendapatkan keadilan haknya, juga sekaligus menyewa lahan untuk bertani secara pribadi. Prinsip yang sering dikatakannya adalah bagaimana mengurai sebanyak mungkin asupan dari luar (kimia) ke dalam tanah pertanian ini. Kalau dengan kawan-kawan aktivis mahasiswa dia sering mengatakan istilah prinsip LEISA (low external input sustainable agriculture) prinsip bertani yang berkelanjutan atau pola organik. Model-model organizer dan cara penyampaian metode pada petani serta tehnik pendidikan beberapa ditulisnya sebagai buku pegangan atau modul untuk memfasilitasi pembangunan kapasitas petani-petani.

Pak Amrin (38) warga perbukitan Dusun Gumitir Desa Kamal Kecamatan Arjasa mengaku mengenal sosok Iwan Kusuma sejak lama. “Saya kenal Pak Iwan saat masih ngantor di Sekber KRD Jalan Doho Jember,” ungkapnya. Salah satu rahasia terungkap bahwa menurut dia kolom pekerjaan di KTP Iwan Kusuma adalah Petani/Pekebun.

Sementara Pak Okta (27) masih warga Desa Kamal menuturkan bahwa kecintaannya terhadap budaya ta’ buta’an justru muncul karena paparan dan nasehat dari Iwan Kusuma. “Pak Iwan yang mengajak saya agar aktif di Dewan Kesenian Jember. Itu yang bikin saya cinta budaya desa sendiri,” katanya kepada wartawan.

Masih dari Desa Kamal Pak Alfa (28) juga terkesan Sekolah Alam, event belajar anak desa yang digagas Iwan Kusuma. “Padahal rencananya kegiatan itu hanya untuk anggota KOMPAK, eh malah Pak Kades dan semua perangkat desa ikut serta. Mas Iwan Kusuma memang keren,” tandasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button