BirokrasiHeadline

Inilah Peran Aktif BIN dalam Mendukung Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19 di Seluruh Nusantara

SURABAYA, TI – Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah mempercepat capaian vaksinasi booster Covid-19. Dengan begitu, masyarakat tidak kesulitan saat hendak mudik Idulfitri nanti. Vaksinasi booster memang tidak menjadi syarat bagi pemudik. Namun masyarakat yang belum mendapat booster, diwajibkan untuk menunjukkan hasil negatif tes antigen jika baru mendapat dua dosis vaksin, dan tes PCR untuk yang baru menerima dosis pertama vaksinasi Covid-19.

Hal tersebut dilakukan sebagai upaya meminimalisir penyebaran virus Covid-19. Untuk itu Puan menekankan pentingnya vaksinasi booster digencarkan. “Permudah masyarakat mudik dengan mempercepat vaksinasi Covid-19, khususnya untuk daerah-daerah yang banyak pemudik. Program booster yang dilakukan saat ini sudah cukup baik, tapi perlu semakin dimaksimalkan agar nantinya masyarakat lebih aman ketika mudik Idulfitri,” kata Puan dam keterangan persnya kepada Parlementaria.

Agar cakupan vaksinasi booster Covid-19 bisa semakin optimal, Puan mendorong Pemerintah meningkatkan kerja sama dengan organisasi kemasyarakatan maupun lembaga lainnya. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan upaya door to door. “Perbanyak program vaksin booster yang menyasar pemudik. Datangi permukiman yang banyak ditinggali pekerja dari luar daerah jauh sebelum Idulfitri sehingga imun masyarakat sudah terbentuk sebelum mereka akan mudik,” jelas Puan.

Sementara itu Badan Intelijen Negara (BIN) berperan aktif dalam mendukung pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di seluruh wilayah nusantara. Deputi Bidang Intelijen Dalam Negeri Badan Intelijen Negara (BIN), Mayjen TNI Edmil Nurjamil mengatakan, strategi yang dilakukan oleh BIN sesuai arahan Kepala BIN Budi Gunawan adalah mendatangi langsung atau door to door ke setiap rumah warga.

“Hal ini dilakukan BIN untuk menyasar masyarakat atau daerah yang belum tersentuh oleh sentra vaksinasi Covid-19, termasuk anak-anak sekolah,” ujar Edmil seperti dilansir dari beritasatu. Dalam diskusi daring bertajuk Percepatan Vaksinasi dan Peran Teknologi yang berlangsung pada bulan Februari lalu, Edmil menjelaskan, BIN juga melakukan vaksinasi di daerah permukiman kumuh, hingga ke daerah-daerah terpencil, terluar, dan sulit dijangkau.

“BIN menjalankan kebijakan bahwa hingga Desember 2022 diharapkan target 25 juta vaksinasi untuk semua golongan bisa tercapai. Bahkan, jika memadai insyaallah bisa di atas 25 juta,” ungkap Edmil.

Edmil memaparkan, atas perintah Presiden, BIN mengambil porsi untuk terlibat langsung menangani Covid-19. “Pertama, melakukan percepatan vaksinasi untuk menuju kekebalan komunal bekerja sama dengan TNI/Polri, institusi pemerintah di 34 provinsi,” tandasnya.

Edmil menambahkan, peran teknologi menjadi sangat besar ketika Indonesia hadapi tantangan besar melawan pagebluk. Pengembangan vaksin yang umumnya membutuhkan waktu sekitar sepuluh tahun, dengan pemanfaatan teknologi canggih, vaksin bisa dikembangkan hanya dalam dua tahun. Tidak heran, jika Indonesia saat ini tercatat sebagai negara dengan pencapaian target vaksinasi melebihi 318 juta suntikan.

“Indonesia pernah mengalami kondisi sangat mengerikan di satu titik. Kami harus memonitor seluruh dinamika perkembangan ini di dalam negeri,” kata Edmil.

Sementara, Ketua GPMN (Gema Perjuangan Maharani Nusantara) Jatim, Aliem Mustoko mengatakan, inovasi teknologi juga menjadi perhatian BIN dalam mendukung percepatan program vaksinasi ini. BIN dalam waktu singkat bisa mengembangkan sistem informasi Premise (Prediksi Pandemik Virus Covid-19) bekerja sama dengan kampus ITB. “Ini satu-satunya di Indonesia sistem informasi yang lengkap sekali, bagaimana prediksi Covid-19 secara digital, yang bisa menjangkau seluruh wilayah di Indonesia,” paparnya.

BIN, katanya, membuat aplikasi untuk pengelolaan vaksin, yakni bernama Corvis (Covid-19 Response and Prevention System). “Dengan teknologi ini (Corvis), kita tahu persis kapan vaksin akan kadaluarsa, vaksin apakah berkurang, mana prioritas vaksin untuk lansia dan anak-anak, sehingga petugas BIN jika akan melaksanakan vaksinasi akan lebih efektif berdasarkan data-data yang dimiliki,” ucap Aliem.

BIN juga memiliki laboratorium intelijen berskala besar satu-satunya di Indonesia dan menjadi gudangnya para ilmuwan. “Kata kuncinya, kita harus punya kemampuan, menguasai teknologi. Jika menggunakan bantuan luar negeri harus dengan syarat ada transfer knowledge agar tidak ketergantungan,” tandasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button