Gaya HidupHeadline

Haul, Cara Efektif untuk Belajar Jejak Teladan Para Leluhur, Ini Paparan Ning Dyah

PAMEKASAN, TI – Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Huda Sumber Nangka Duko Timur, Larangan, Pamekasan, menggelar Haul Nyai Hj. Mukarromah As’ad dan Hari Lahir (Harlah) ke-115 Pondok Pesantren AL-Huda. Pengasuh Pondok Pesantren Al Huda, Nyai Hj. Aisyatul As’adiyah, mengatakan, tujuan diadakannya haul adalah untuk meneladani para leluhur dan muassis Pondok Pesantren Al-Huda.

“Tujuannya haul meneladani yang dihauli, bagaimana masa hidupnya Nyai Mukarromah As’ad beserta para leluhur dan muassis Al-Huda Sumber Nangka. Bagaimana masa hidupnya Kiai Shidqie, Kiai Mudzhar, Kiai Zainuddin, Kiai As’ad, Kiai Syamsul Arifin, dan Kiai Ruham,” jelasnya, Jumat kemarin.

Ning Dyah, sapaan akrabnya, menuturkan, bahwa awal mula haul berasal dari kebiasaan Sunan Ampel. Konon, Sunan Ampel punya khaddam (pelayan, red) yang Bernama Mbah Sholeh. Mbah Sholeh itu meninggal sembilan kali. Sejak tidak ada Mbah Sholeh, tidak ada yang ngisi kamar mandi. Tidak ada yang nyapu.

“Karena itu, Sunan Ampel memanggil Mbah Sholeh, terus bangun itu nyapu, ngisi air, meninggal lagi, dipanggil lagi kayak itu hidup lagi dipanggil lagi, hidup lagi. Setelah berkali-kali hidup ditanya sama Sunan Ampel, ‘Sholeh, kamu waktu meninggal melihat apa? Dijawab, ‘Itu Sunan, kalau ada orang selametan, haul itu, kelihatan oleh saya. Apa yang mereka kasih, semisal ngasih makanan, ngasih jajan, itu kelihatan. Artinya, itu nyampek pada yang meninggal,” tuturnya.

Ketua Dewan Pertimbangan DPC PDI Perjuangan Pamekasan itu juga menegaskan, bahwa dengan menggelar haul untuk seseorang yang sudah meninggal, maka orang-orang yang sekerabat juga mendapatkan ‘kiriman’ dari haul tersebut. Karena itu, tambah Ning Dyah, doa dan shadaqah yang dikeluarkan pada acara haul, pahalanya akan sampai pada orang yang sudah meninggal dunia.

“Senang rasanya kerumunan yang dikirim itu. Misalnya, ngeholin (menggelar haul, red) Kiai Syamsul, itu orang-orang yang meninggal itu berkerumun ikut makan, ikut hadir ke hol. Karena itu, kalau saya ngeholin Juk Syamsul, Juk Zainuddin, pahalanya akan sampai pada mereka, dan mereka pun tidak perlu ngampong sama teman-temannya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ning Dyah berharap, masyarakat tetap menjaga tradisi haul untuk para keluarga yang sudah meninggal dunia. Selain untuk selalu belajar pada jejak para leluhur, haul juga dapat mempererat tali silaturahim antara saudara dan tetangga.

“Dengan berhaul kita akan mempererat tali silaturrahim. Memperkuat semangat gotong royong, bahwa dalam kehidupan berbangsa-bernegara, masyarakat kita itu tidak terlepas dari semangat kebersamaan dan kekompakan,” tandasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button