HeadlineHukum dan Peristiwa

Ada Uang Bisa Lulus Test Tulis Pilkades? Bacakades : Brokernya Bisa Beli Honda Jazz

JEMBER, TI – Tahapan Pilkades di Kabupaten Jember terus berjalan, beberapa tahapan sudah dilalui, diantaranya test tulis bagi desa yang mempunyai calon kepala desa (Cakades) lebih dari 5 beberapa waktu lalu.

Dimana data yang diterima media ini, ada 10 desa di Kabupaten Jember yang menggelar test tulis dari 59 desa yang melaksanakan Pilkades pada tahun ini, dari 10 desa tersebut, terdapat 80 bakal calon kepala desa (bacakades) yang berebut lolos untuk bisa menjadi calon kepala desa.

Namun, ada temuan dan pengakuan menarik dari bacakades yamg dinyatakan tidak lulus test tulis dan cakades yang lulus test tulis yang diungkapkan ke wartawan Jatim TIMES, dimana sebelum test tulis digelar. Banyak broker (makelar) yang mendatangai bacakades.

Para broker atau makelar ini mendatangi bacakades dengan menawarkan jaminan lukus test tulis, namun dengan syarat membayar sejumlah uang yang akan diberikan ke oihak oihak tertentu yang bisa mengatur kelulusan test tulis bagi bacakades.

“Nominal uangnya variatif mas, saya sendiri dimintai uang diatas 10 juta, tapi saya hanya ngasih 3 juta, sedangkan kompetitor saya, infonya dimintai 25 juta, secara cash dan transfer, kalau saat menyerahkan uang cash saya tidak tahu, tapi yang transfer, saya ada buktinya,” ujar salah satu Cakades yang tidak mau disebut desa pilihannya.

Bahkan menurutnya, sejumlah uang yang dimintai oleh broker tersebut informasi yang ia terima untuk diberikan ke oknum di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispemasdes), tidak hany itu, beberapa hari setelah test tulis, sang broker bisa membeli mobil Honda Jazz.

“Infonya uang itu diberikan ke orang diatas mas, bahkan sang broker mencatut nama orang di Dispemasdes, dan kemarin saya juga mendengar jika sang broker tersebut sudah bisa membeli mobil Honda Jazz,” bebernya.

Hal yang sama juga diakui oleh Gofar salah satu Bacakades yang tidak lulus dalam test tulis, menurutnya 5 hari sebelum pelaksanaan test tulis, dirinya semoat didatangi oleh temannya yang mengatakan ada orang yang bisa meluluskan test tulis untuk dirinya, dengan catatan dirinya diminta menyiapkan uang 50 juta sebagai persyaratan, namun dirinya tidak mau.

“Saat itu teman saya mendatangi saya beberapa hari sebelum test tulis, dan bilang ke saya kalau yang lukus sudah bisa diketahui, dan menawarkan ke saya kalau ingin lulus agar saya menyiapkan dana 50 juta, tapi saya gak mau,” ujar Gofar.

Gofar mengatakan, dirinya tidak mau karena dirinya menganggap test tulis untuk lolos menjadi Cakades, tidak jauh beda dengan ujian sewaktu sekolah, terlebih beberapa kompetitornya hanya lulusan kejar paket, dan dari usia maupun fisik juga ada kelemahan.

Namun untuk menentukan kelulusan test tulis, ternyata ada faktor X yang mempengaruhi. “Bukan berniat meremehkan calon lain, tapi di desa saya, kompetitor saya ada yang kesukitan membaca, untuk membaca harus pakai kacamata, itupun tulisan harus dekat dengan matanya, tapi bisa lulus mas, dan saya baru tau kalau ada faktor X yang menentukan,” ujar Gofar.

Gofar juga menilai, ada kejanggalan dalam lembar jawaban test tulis dalam seleksi bacakades, menurutnya lembara jawaban dengan sistem komputerisasi, seharusnya dengan sistem jawaban pilihan ganda, jawaban yang dioilih di arsir, bukan disilang, tapi dalam test tulis ini, peserta cukup dengan melakukan tanda silang dalam memilih jawaban.

“Padahal, kalau memang itu sistem komputerisasi dalam lembar jawaban, pilihan jawaban diarsir penuh, bukan di silang, ini yang saya nilai ada kejanggalan, saat itu saya bingung mau menyampaikan aspirasi ini, harus saya sampaikan ke siapa, dan banyak calon lain yang merasakan hal sama seperti saya,” ujar Gofar.

Soal test tulis sendiri, M. Husni Thamrin selaku kuasa hukum dari bakal calon kades Desa Slateng yang mendaftarkan gugatan ke PN Jember juga menyatakan, jika test tulis untuk desa yang memiliki calon lebih dari 5, patut ditanyakan regulasinya.sebab tujuan test tulis hanya untuk menguji calon tentang wawasan kepemimpinan pemerintahan, apakah desa yang calonnya kurang dari sudah paham wawasan kepemimpinan? Sehingga tidak diperlukan test tulis juga?

“Test tulis itu kan menurut panitia Kabupaten, untuk menguji wawasan kepemimpinan bakal calon kades tentang kepemimpinan pemerintahan, namun kenapa test tulis hanya diberlakukan bagi desa yang calonnya lebih dari 5, lantas apakah calon yang kurang dari 5 tidak oerlu test wawasan kepemimpinan?” ujar Thamrin dengan penuh tanda tanya.

Oleh karena itulah, kliennya mengajukan gugatan ke PN Jember kepada 5 tergugat, diantaranya panitia Pilkades tingkat desa, Panitia tingkat Kecamatan, Paniti tingkat Kabupaten, dan Dinas Pendidikan.

Sementata Plt. Kadispemasdes Adi Wijaya, melalui Kabid Bidang Pemerintahan Desa Nunung Agus A., saat dikonfirmasi media ini mengatakan, bahwa soal adanya broker dalam test tulis bacakades, dirinya tidak mengetahui sama sekali.

“Wah saya kok malah gak tau ya mas, justru saya taunya dari jenengan, kalau misal ada yang merasa dirugikan karena membayar broker, silahkan diproses saja,” ujar Nunung.

Sedangkan ketika disinggung mengenai kejanggalan yang dipersoalkan oleh Bacakades soal lembara jawaban sistem komputerisasi, Nunung menjelaskan jika soal dalam test tulis yang digelar untuk menjaring bacakades, leading sektornya ada di Dinas Pendidikan.

“Kalau soal lembara jawaban, teknisnya bukan di kami, karena leading sektornya Dinas Pendidikan, jadi soal itu kami juga tidak tahu, apalagi saya masuk di Dispemasdes juga setelah test tulis bacakades,” pungas Nunung. (*)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button